Jumat, 17 Januari 2020

ARTIKEL BEST PRACTICE ADIK LIA NOVITA


ARTIKEL BEST PRACTICE

Disusun  guna memenuhi tugas mata kuliah
“Dasar Pendidikan dan Pembelajaran”
Dosen Pengampu: Dr. Sri Utaminingsih, M.Pd.








IMPLEMENTASI MODEL PROBLEM BASED LEARING BERORIENTASI HOTS PADA KELAS VI SD


Oleh
ADIK LIA NOVITA
NIM 201903003
KELAS E


PROGRAM STUDI MAGISTER PENDIDIKAN DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MURIA KUDUS
2019



BAB I
PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang Masalah
Pembelajaran tematik terpadu di sekolah disesuaikan dengan tuntutan Kurikulum 2013 yang pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan beberapa muatan pelajaran dalam satu pembelajaran. Beberapa muatan, misalnya Bahasa Indonesia, IPA, dan IPS disatukan dalam tema yang sama kemudian disajikan dalam satu pembelajaran utuh yang saling berkaitan.
Penulis menggunakan buku guru dan buku siswa dalam melaksanakan pembelajaran kurikulum 2013. Penulis meyakini bahwa buku tersebut sudah sesuai dan baik digunakan di kelas karena diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Ternyata, dalam praktiknya, penulis mengalami beberapa kesulitan seperti materi dan tugas tidak sesuai dengan latar belakang siswa. Selain itu, penulis masih berfokus pada penguasaan pengetahuan kognitif yang lebih mementingkan hafalan materi. Dengan demikian proses berpikir siswa masih dalam level C1 (mengingat), memahami (C2), dan C3 (aplikasi). Penulis hampir tidak pernah melaksanakan pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills/ HOTS).  Penulis juga jarang menggunakan media pembelajaran. Dampaknya, suasana pembelajaran di kelas monoton dan anak-anak tampak tidak ceria.
Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa siswa diperoleh informasi bahwa siswa kurang antusias mengikuti pembelajaran yang dilakukan guru dengan cara ceramah, selain ceramah, metode yang selalu dilakukan guru adalah penugasan. Sebagian siswa mengaku jenuh dengan tugas-tugas yang hanya bersifat mencatat materi-materi.
Untuk menghadapi era Revolusi Industri 4.0, siswa harus dibekali keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills).  Salah satu model pembelajaran yang berorientasi pada HOTS dan disarankan dalam implementasi Kurikulum 2013 adalah model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning)/PBL. PBL merupakan model pembelajaran yang mengedepankan strategi pembelajaran dengan menggunakan masalah dari dunia nyata sebagai konteks siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep esensial dari materi yang dipelajarinya. Dalam PBL siswa dituntut untuk mampu memecahkan permasalahan nyata dalam kehidupan sehari-hari (kontekstual). Dengan kata lain, PBL membelajarkan siswa untuk berpikir secara kritis dan analitis, serta mencari dan menggunakan sumber pembelajaran yang sesuai untuk memecahkan masalah yang dihadapi.  
Setelah melaksanakan pembelajaran tematik terpadui dengan model PBL, penulis menemukan bahwa proses dan hasil belajar siswa meningkat. Lebih bagus dibandingkan pembelajaran sebelumnya. Ketika model PBL ini diterapkan pada KELAS VI yang lain ternyata proses dan hasil belalajar siswa  sama baiknya. Praktik pembelajaran PBL yang berhasil baik ini penulis simpulkan sebagai sebuah best practice (praktik baik) pembelajaran berorientasi HOTS dengan model PBL. Kegiatan dalam praktik baik ini adalah kegiatan pembelajaran tematik di KELAS VI untuk pasangan KD Bahasa Indonesia, IPA, dan IPS.

1.2    Tujuan
Tujuan penulisan pratik baik ini adalah meningkatkan kompetensi siswa dalam pembelajaran tematik integratif yang berorientasi HOTS dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning.

1.3     Kajian Teori
Pembelajaran berbasis masalah adalah salah satu model pembelajaran berbasis masalah yang telah dikenal sejak John Dewey, dimana pembelajaran berbasis masalah berpusat pada model pembelajaran. Siswa melibatkan pembelajaran melalui pemecahan masalah melalui keadaan nyata, dan melibatkan hubungan antara stimulus dan respons (Yuniara, 2017). Model PBL merupakan salah satu model pembelajaran inovatif yang berangkat dari masalah dunia nyata peserta didik untuk belajar tentang cara berpikir kritis dalam memecahkan suatu permasalahan. Menurut Anazifa (2017) “Problem based learning is based on the idea that individuals fashion their understanding largely throught what the experience”. Pendapat tersebut jika diterjemahkan mengandung arti pembelajaran berbasis masalah didasarkan pada gagasan bahwa individu bisa paham terutama melalui pengalaman.
Sejalan dengan itu, Bound and Feletti (dalam Jailani, Sugiman dan Ezi Apino; 2017) “ The basic principle supporting the concept of PBL, is older than formal education itself., learning is initiated by a posed problem, query, or puzzle taht the learner want to solve”. Pendapat Bound tersebut jika diterjemahkan mengandung arti bahwa prinsip dasar yang mendukung konsep dari PBL lebih tua dari pendidikan formal itu sendiri. Belajar diprakarsai dengan adanya
Pembelajaran dalam penelitian ini sebagai berikut tahapan dalam pembelajaran berbasis masalah menurut Padmavathy (dalam Yuniara: 2017).
1)             Jelaskan kata-kata, pernyataan dan konsep yang tidak diketahui
2)             Definisikan masalah
3)             Brainstorm - menganalisis / mencoba menjelaskan masalahnya
4)             Merumuskan Masalah Pembelajaran dan Menentukan Tindakan yang Akan Diambil
5)             Belajar Mengarahkan Diri Sendiri.
6)             Pertemuan Kelompok Selanjutnya: Laporkan dan evaluasi pembelajaran mandiri. Perbaiki masalah pembelajaran dan tentukan tindakan lebih lanjut.
7)             Fase Laporan. Resolusi masalah. Evaluasi proses.
Langkah-langkah model PBL juga dirumuskan dari orientasi peserta didik pada masalah, mengorganisasikan peserta didik untuk belajar, membimbing penyelidikan individual maupun kelompok, mengembangkan dan menyajikan hasil karya dan menganalisis serta mengevaluasi proses pemecahan masalah (Surya, 2017).
Penelitian dengan pembelajaran berbasis masalah telah dipraktekkan secara luas. Secara umum, hasil penelitian dapat meningkatkan kemampuan peserta didik. Berikut penulis sajikan beberapa penelitian terdahulu yang telah terbukti meningkatkan kemampuan peserta didik.
1.             Berdasarkan penelitian tindakan kelas oleh Oktavianti dan Santoso (2015) menunjukkan bahwa melalui model Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar PKn. Hal ini dapat dilihat dari tercapainya indikator keberhasilan sebagai berikut. Persentase ketuntasan hasil belajar klasikal pada ranah kognitif tes evaluasi siklus I 60% meningkat menjadi 85% pada tes evaluasi siklus II dengan peningkatan nilai rata-rata kelas pada siklus I 75,75 menjadi 80,50 pada siklus II. Hasil belajar siswa pada ranah afektif pada siklus I rata-rata memperoleh nilai 67% dengan kualifikasi “baik” meningkat pada siklus II menjadi 82 dengan kualifikasi “baik”. Hasil belajar siswa pada ranah psikomotorik pada siklus I rata-rata memperoleh nilai 60% dengan kualifikasi “baik” meningkat pada siklus II menjadi 85% dengan kualifikasi “sangat baik”.
2.             Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Zuliana (2015) menunjukkan bahwa pembelajaran matematika dengan menggunakan model PBL berbantuan kartu masalah berpengaruh positif terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang dapat dilihat dari hasil analisis regresi linear diperoleh nilai hitung F = 44,232 dengan siginifikansi 0,000 < 5%, persamaan regresi linear Ŷ=37,227+0,584X dan koefisien determinasi 59,6%.
3.             Penelitian lain oleh Camelia (2012) menunjukkan bahwa penerapan Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan participation skills siswa. Hasil akhir yang diperoleh setelah tindakan siklus II adalah pada indikator bertanya sebesar 75.7%, bekerja sama sebesar 78.4%, berdiskusi sebesar 75.7%, dan pada indikator berbicara sebesar 75.7%. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan participation skills siswa melalui penerapan Problem Based Learning (PBL) pada pelajaran PKn siswa kelas V SDN Karanggondang, Sewon, Bantul, Yogyakarta.
4.             Berdasarkan hasil penelitian lain juga, yaitu penelitian oleh Wahyuni (2016) diperoleh hasil sebagai berikut: persentase rata-rata hasil belajar siswa berdasarkan nilai ulangan akhir semester sebelum dilakukan penerapan tindakan sebesar 64%, setelah dilakukan tindakan siklus I hasil belajar siswa menjadi 69,77%, sedangkan pada siklus II sebesar 84,32%. Hasil penelitian pada siswa kelas IVA SD Katolik Karya Singaraja semester genap tahun pelajaran 2015/2016 dengan menerapkan model pembelajaran problem based learning (PBL) berbantuan media komik menunjukkan adanya peningkatan terhadap hasil belajar PKn pada siklus I dan II dibandingkan dengan sebelum adanya tindakan. Terjadi peningkatan sebesar 14,55% dari siklus I ke siklus II. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Problem Based Larning (PBL) berbantuan media komik dapat meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas IVA SD Katolik Karya Singaraja.
5.             Berdasarkan penelitian oleh Tabun, dkk (2019 ditemukan bahwa ada perbedaan hasil belajar yang signifikan terhadap pembelajaran IPA Terpadu antara kelompok siswa yang diajar dengan PBL dengan kelompok siswa yang diajar dengan model pembelajaran konvensional. Ini berarti pemberian Perlakuan PBL memberikan dampak yang lebih baik terhadap hasil belajar dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional. Ada perbedaaan hasil belajar IPA Terpadu yang signifikan antara kelompok siswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis tinggi dan rendah. Siswa mendapatkan hasil belajar yang lebih tinggi apabila memiliki kemampuan berpikir kritis tinggi baik pada kelompok PBL. Ini berarti kemampuan berpikir kritis sebagai pendorong usaha dalam pencapaian hasil belajar. Ada perbedaan hasil belajar IPA Terpadu yang signifikan antara kelompok siswa yang memiliki kerjasama tinggi dan rendah. Siswa akan mendapatkan hasil belajar yang lebih tinggi apabila memiliki kerjasama tinggi baik pada kelompok PBL maupun konvensional.
6.             Hasil penelitian yang dilakukan oleh Yuniara (2017) menunjukkan bahwa sebelum diberikan tindakan rata-rata tes awal sekitar 50,31 dengan tingkat pembelajaran yang lengkap adalah (25%). Setelah melakukan tes kelas I siklus itu dari siklus belajar I meningkat menjadi 56,25%. Ini berarti peningkatan 31,25% dari tes pertama. Dan kemudian setelah melakukan tes siklus II dengan menerapkan pembelajaran berbasis masalah mereka mendapatkan rata-rata pada proses pembelajaran dengan siklus II adalah 87,5%, yang berarti mereka mendapat peningkatan 31,25% dari siklus I tes.
7.             Hasil penelitian lain juga dilakukan oleh Jailani, dkk (2017) yang menunjukkan bahwa: (1) implementasi PBL lebih efektif dibandingkan dengan ekspositori dalam hal meningkatkan HOTS siswa; (2) implementasi PBL telah menjadi lebih efektif dibandingkan dengan yang ekspositori dalam hal meningkatkan karakter siswa.
8.             Berdasarkan penelitian Baharun dan Rohmatul Ummah (2018) menunjukkan bahwa pembelajaran Akhlaq melalui pendekatan PBL dapat membentuk aktivitas berpikir siswa secara alami dan dapat memecahkan masalah belajar yang berkaitan dengan moralitas peserta didik. Sehingga peserta didik dapat belajar tentang cara berpikir kritis dan dapat terampil dalam memecahkan masalah.
9.             Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Abdurrozak, dkk (2016) diperoleh hasil 1) terdapat peningkatan kemampuan berpikir kreatif siswa dengan menggunakan model PBL, 2) terdapat peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan model PBL, 3) kemampuan berpikir kreatif siswa dengan menggunakan model PBL lebih baik daripada menggunakan model konvensional, 4) terdapat faktor pendukung dan penghambat dalam meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa.
10.         Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Astriani, dkk (2017) dijelaskan bahwa ada pengaruh penggunaan model pembelajaran berbasis masalah terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa MTs Al-Yusriyah ini dapat dilihat dari hasil pengujian hipotesis, hasil yang diperoleh Ho ditolak dan Ha diterima. Pengambilan keputusan dapat dilihat dari t (2,988)> t tabel (1,684). Dapat dilihat bahwa rata-rata kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas eksperimen lebih besar daripada kelas kontrol nilai rata-rata. Ini berarti bahwa siswa yang telah diberikan pengajaran kelas eksperimen dengan menggunakan pembelajaran berbasis masalah, kemampuan pemecahan masalah matematika lebih tinggi jika dibandingkan dengan kemampuan pemecahan masalah siswa di kelas kontrol dengan pembelajaran konvensional. Ini berarti ada pengaruh penggunaan model pembelajaran berbasis masalah terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa MTs Al-Yusriyah


11.   
BAB II
PEMBAHASAN

2.1     Tujuan dan Sasaran
Tujuan penulisan praktik baik ini adalah untuk mendeskripsikan praktik baik penulis dalam meerapkan pembelajaran berorientasi higher order thiking skills (HOTS).
Sasaran pelaksanaan best practice ini adalah siswa Kelas VI semester 1 di SD Negeri Guwo 01 sebanyak 18 orang tahun ajaran 2019/2020 .

2.2     Bahan/Materi Kegiatan
Bahan yang digunakan dalam praktik baik pembelajaran ini adalah materi  Kelas VI untuk tema globalisasi yag merupakan pembelajaran tematik gabungan KD Bahasa Indonesia, IPA, dan IPS berikut ini.
Bahasa Indoesia

KD 3.3
Meringkas teks penjelasan (eksplanasi) dari media cetak atau elektronik.
KD 4.3
Menyajikan ringkasan  teks penjelasan (eksplanasi) dari media cetak atau elektronik dengan menggunakan kosakata baku dan kalimat efektif secara lisan, tulis, dan visual
IPS

KD 3.2
Menganalisis perubahan sosial budaya dalam rangka modernisasi bangsa Indonesia.
KD 4.2
Menyajikan hasil analisis mengenai perubahan sosial budaya dalam rangka modernisasi bangsa Indonesia.
IPA

KD 3.3
Menganalisis cara makhluk hidup menyesuaikan diri dengan lingkungan.
KD 4.3
Menyajikan karya tentang cara makhluk hidup menyesuaikan diri dengan lingkungannya, sebagai hasil penelusuran berbagai sumber

2.3     Cara Melaksanakan Kegiatan
Cara yang digunakan dalam pelaksanaan praktik baik ini adalah menerapkan pembelajaran tematik terpadu dengan model pembelajaran problem based learning (PBL).
Berikut ini adalah langkah-langkah pelaksanaan praktik baik yang telah dilakukan penulis.
1.             Pemetaan KD
Pemetaan KD dilakukan untuk menentukan pasangan KD yang dapat diterapkan dalam pembelajara tematik. Berdasarkan hasil telaah KD yang ada di KELAS VI, peulis memilih tema modernisasi untuk membelajarkan pasangan KD 3.3-4.3 muatan Bahasa Indonesia; KD 3.2 – 4.2 muatan IPS; dan KD 3.3 – 4.3 muatan IPA di KELAS VI semester 1.
2.             Perumusan Indikator Pencapaian Kompetesi
IPK Bahasa Indoesia
 3.3.1
Mengidentifikasi informasi penting dalam teks penjelasan (eksplanasi) tentang modernisasi dari media cetak atau elektronik.
3.3.2
Membenahi kalimat tidak efektif dalam teks (eksplanasi) dari media cetak atau elektronik menjadi kalimat efektif.
3.3.3
Meringkas teks penjelasan (eksplanasi) dari media cetak atau elektronik.
4.3.1
Menyajikan ringkasan  teks penjelasan (eksplanasi) dari media cetak atau elektronik dengan menggunakan kosakata baku dan kalimat efektif secara lisan, tulis, dan visual.
KD 4.3
Menyajikan ringkasan  teks penjelasan (eksplanasi) dari media cetak atau elektronik dengan menggunakan kosakata baku dan kalimat efektif secara lisan, tulis, dan visual
IPS
3.2.1
Mengidentifikasi contoh perubahan sosial dalam rangka modernisasi bangsa Indonesia.
3.2.2
Mengidentifikasi perubahan budaya dalam rangka modernisasi bangsa Indonesia.
3.2.3
Menganalisis perubahan sosial dalam rangka modernisasi bangsa Indonesia.
 3.2.4
Menganalisis perubahan budaya dalam rangka modernisasi bangsa Indonesia.
4.2.1
Menyajikan hasil analisis mengenai perubahan sosial budaya dalam rangka modernisasi bangsa Indonesia.
4.2.2
Menmbuat peta pikiran (mind mapping) hasil analisis mengenai perubahan sosial budaya dalam rangka modernisasi bangsa Indonesia.
IPA
3.3.1
Menguraikan cara makhluk hidup menyesuaikan diri dengan lingkungan.
3.3.2
Menganalisis cara makhluk hidup menyesuaikan diri dengan lingkungan terhadap kelestarian spesiesnya.
KD 3.3
Menyajikan karya tentang cara makhluk hidup menyesuaikan diri dengan lingkungannya, sebagai hasil penelusuran berbagai sumber.
KD 4.3
Menyajikan karya tentang cara makhluk hidup menyesuaikan diri dengan lingkungannya, sebagai hasil penelusuran berbagai sumber

3.             Pemilihan Model Pembelajaran
Model pembelajaran yang dipilih adalah problem based learning (PBL) .
4.             Merencanakan kegiatan Pembelajaran sesuai dengan Model Pembelajaran
Pengembangan desain pembelajaran dilakukan dengan merinci kegiatan pembelajaran yang dilakukan sesuai dengan sintak PBL. Berikut ini adalah rencana kegiatan pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan model PBL.
Sintak Model Pembelajaran
Guru
Siswa
Orientasi Masalah
1) Guru menyampaikan ilustrasi bahwa diban-dingkan kehidupan-nya pada masa kecil, saat ini dunia sudah berkembang menjadi modern. 
2) Guru mengajukan pertanyaan, “Apa yang kalian ketahui tentang modern dan modernisasi?
3)      Guru meminta siswa membaca teks eks-planasi tentang pengertian modernisasi.
4)      Bertanya jawab untuk menyimpulkan pengertian modernisasi termasuk membuka kBBI.
5)      Guru menyampaikan tujuan materi pem-belajaran hari itu adalah membuat ring-kasan teks ekspla-nasi; Menganalisis perubahan budaya dalam rangka modern isasi bangsa Indonesia.
6)      Guru menyampaikan bahwa kegiatan beri kutnya siswa ditu-gaskan untuk menyimak tayangan video tentang perubahan budaya.
7)      Guru menyampaikan tugas siswa yaitu (a) menentukan pokok-pokok informasi terkait yang terdapat dalam video (teks audio visual), (b) mengidenti-fikasi kalimat tidak efektif yang digunakan dalam video’ (c) membenahi kalimat tidak efektif menjadi kalimat efektif, (d) mengidentifikasi kosa kata baru dalam video, (e) menemukan makna kosa kata baru dengan menggunakan Kamus Besar Bahasa Indo-nesia, (f) membuat ringkasan isi video dengan menggunakan kalimat efektif, (g) menjawab pertanyaan yang disediakan dalam LKS, (g) mengiden-tifikasi contoh peru-bahan sosial budaya dalam rangka modern-isasi yang terdapat dalam video. 
1)     Menyimak penjelasan guru dan menjawab pertanyaan guru.
Mengorganisasi
1)      Guru membagi siswa dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 45 orang.
2)      Setiap kelompok mengerjakan tugas yang telah dijelaskan oleh guru.
Membimbing penyelidikan
1)      Guru membimbing siswa menyelesaikan tugasnya.
2)      Guru memberi ban-tuan dan atau menja-wab pertanyaan dari siswa bila dibutuhkan.
Mengembangkan dan menyajikan laporan hasil karya
Mendampingi siswa dalam mengembangkan dan menyajikan laporan hasil kerja.
1)     Menyusun laporan hasil kerja kelompok.
2)     Mempresentasikan hasil kerjanya dalam diskusi kelas.
3)     Kelompok lain memberikan tang-gapan, mengajukan pertanyaan, atau usul terhadap hasil kerja kelompok lain.
Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.
1)     Menganalisis dan mengevaluasi hasil kerja siswa.
2)     Memberi penguatan hasil belajar siswa.
1)     Menyimak penjelasan guru.
2)     Mengajukan pertanyaan dan atau tanggapan bila belum paham.
Pembelajaran
setelah istirahat
Orientasi Masalah
1) Guru menyampai kan bahwa agar dapat hidup sesuai dengan perubahan zaman yang terjadi (moder nisasi), seseorang harus mampu bera-daptasi. Bila tidak, orang tersebut akan tergilas zaman. Begitu pun dengan tumbuhan dan binatang. Mereka juga harus mampu beradaptasi.
2) Guru mengajukan pertanyaan, “Dapatkah kalian memberi contoh cara kita beradaptasi dengan lingkungan?
Guru menyampaikan tugas siswa berikutnya adalah menganalisis cara mahluk hidup beradaptasi dengan lingkungannya.
1)        Menyimak penjelasan guru.
2)        Menjawab pertanyaan guru.
Mengorganisasi
Guru meminta siswa kembali duduk bersama kelompoknya untuk mengerjakan tugas kelompok.
1)     Duduk dalam kelompoknya.
2)     Membagi tugas.
Membimbing penyelidikan
1)     Menyajikan video tentang cara mahluk hidup beradaptasi dengan lingkungannya.
2)     Mendampingi siswa mengerjakan tugas kelompoknya. 
1)        Menyimak tayangan video.
2)        Membuat catatan penting sesuai dengan tugas yang harus dikerjakan.
Mengembangkan dan menyajikan laporan hasil karya
Mendampingi siswa menyelesaikan kerja kelompoknya.
1)         Mendiskusikan hasil simakan.
2)         Mengerjakan tugas yang disajikan dalam LKS.
3)         Mempresentasikan hasil kerja kelompok.
4)         Menanggapi presentasi kelompok lain.
Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.
1) Menganalisis dan mengevaluasi hasil kerja kelompok.
2) Memberi penguatan hasil belajar siswa.
3)           Membimbing siswa membuat simpulan hasil belajar hari itu mulai dari teks eksplanasi, perubahan sosial budaya dalam rangka modernisasi, dan cara mahluk hidup beradaptasi dengan lingkungannya.
1)     Menyimak penjelasan guru.
2)     Mengajukan pertanyaan bila belum paham.

5.             Penyusunan Perangkat Pembelajaran
Berdasarkan hasil kerja 1 hingga 5 di atas kemudian disusun perangkat pembelajaran meliputi RPP, bahan ajar, LKS, dan instrumen penilaian. RPP disusun dengan mengintegrasikan kegiatan literasi, penguatan pendidikan karakter (PPK), dan kecakapan abad 21.

2.4     Media dan Instrumen
Media pembelajaran yang digunakan dalam praktik terbaik ini adalah (a) contoh teks ekplanasi berjudul “Pengaruh Globalisasi terhadap Masyarakat Indonesia”, (b) video “Perubahan Sosial Budaya pada masa Modern” diambil dari https://www.youtube.com/watch?v=cx0DRUawd-, dan (c) lembar kerja siswa (LKS) tematik.
Instrumen yang digunakan dalam praktik baik ini ada 2 macam yaitu (a) instrumen untuk mengamati proses pembelajaran  berupa lembar observasi dan (b) instrumen untuk melihat hasil belajar siswa dengan menggunakan (a) tes tulis pilihan ganda dan uraian singkat.

2.5     Waktu dan Tempat Kegiatan
Praktik baik ini dilaksanakan pada tanggal September tahun 2019 bertempat di KELAS VI SD Negeri Guwo 01 Kecamatan Tlogowungu Kabupaten Pati.

2.6     Hasil
Hasil yang dapat diilaporkan dari praktik baik ini diuraikan sebagai berikut.
1.             Proses pembelajaran tematik yang dilakukan dengan menerapkan model pembelajaran PBL berlangsung aktif. Siswa menjadi lebih aktif merespon pertanyaan dari guru, termasuk mengajukan pertanyaan pada guru maupun temannya. Aktifitas pembelajaran yang dirancang sesuai sintak PBL megharuskan siswa aktif selama proses pembelajaran. 
2.             Pembelajaran tematik yang dilakukan dengan menerapkan model pembelajaran PBL meningkatkan kemampuan siswa dalam melakukan transfer knowledge.
Setelah membaca, meringkas, dan mendiskusikan teks eksplanasi tentang modernisasi, siswa tidak hanya memahami konsep teks eksplanasi (pengetahuan konseptual) dan bagaimana membuat ringkasan yang benar (pengetahuan prosedural), tetapi juga memahami konsep modernisasi. Pemahaman ini menjadi dasar siswa dalam mempelajari materi IPS tentang perubahan sosial budaya dalam rangka modernisasi. Pemahaman tentang konsep moderisasi membantu siswa dalam menganalisis prubahan sosial budaya sebagai akibat moderisasi.
Pemahaman siswa tetang perubahan sosial budaya dalam rangka moderisasi pada dasarnya merupakan bentuk adaptasi masyarakat terhadap modernisasi. Pemahaman ini dapat menjadi pengantar bagi siswa untuk memahami cara mahluk hidup beradaptasi dengan lingkungan.
3.             Penerapan model pembelajaran PBL meningkatkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis.
Hal ini dapat dilihat dari tingkat partisipasi siswa untuk bertanya dan menanggapi topik yang dibahas dalam pembelajaran. Dalam pembelajaran sebelumnya yang dilakukan penulis tanpa berorientasi HOTS suasana kelas cenderung sepi dan serius. Siswa cenderung bekerja sendiri-sendiri untuk berlomba menyelesaikan tugas yang diberikan guru. Fokus guru adalah bagaimana siswa dapat menyelesikan soal yang disajikan; kurang peduli pada proses berpikir siswa. Tak hanya itu, materi pembelajaran yang selama ini selalu disajikan dengan pola deduktif (diawali dengan ceramah teori tentang materi yang dipelajari, pemberian tugas, dan pembahasa), membuat siswa cenderung menghapalkan teori. Pengetahuan yang diperoleh siswa adalah apa yang diajarkan oleh guru.
Berbeda kondisinya dengan praktik baik pembelajaran tematik berorientasi HOTS dengan menerapkan PBL ini. Dalam pembelajaran ini pemahaman siswa tentang konsep teks eksplanasi, perubahan sosial budaya, dan cara mahluk hidup menyesuaikan diri benar-benar dibangun oleh siswa melalui pengamatan dan diskusi yang meuntut kemampuan siswa untuk berpikir kritis.
4.             Penerapan model pembelajaran PBL juga meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah (problem solving). PBL yang diterapkan dengan menyajikan teks tulis dan video berisi permasalahan kontekstual mampu mendorong siswa merumuskan pemecahan masalah.
Sebelum menerapkan PBL, penulis melaksanakan pembelajaran sesuai dengan buku guru dan buku siswa. Meskipun permasalahan yang disajikan dalam buku teks kadang kala kurang sesuai dengan kehidupan sehari-hari siswa, tetap saja penulis gunakan. Jenis teks yang digunakan juga hanya pada teks tulis dari buku teks.
Dengan menerapkan PBL, siswa tak hanya belajar dari teks tulis, tetapi juga dari video serta diberi kesempatan terbuka untuk mencari data, materi dari sumber lainnya.

2.7     Masalah yang Dihadapi
Masalah yang dihadapi terutama adalah siswa belum terbiasa siswa belajar dengan model PBL. Dengan tujuan untuk mendapat nilai ulangan yang baik guru selalu mengguakan metode ceramah, siswa pun merasa lebih percaya diri menghadapi ulangan (penilaian) setelah mendapat penjelasan guru melalui ceramah.
Masalah lainnya adalah guru tidak mempunyai kompetensi yang memadai untuk membuat video pembelajaran. Padahal selain sebagai media pembelajaran,. Video juga merupakan bentuk teks audiovisual yang juga harus disajikan sesuai dengan rumusan KD.

2.8     Cara Mengatasi Masalah
Agar siswa yakin bahwa pembelajaran tematik dengan PBL dapat membantu mereka lebih menguasai materi pembelajaran, guru memberi penjelasan sekilas tentang apa, bagaimana, mengapa, dan manfaat belajar berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills/HOTS). Pemahaman dan kesadaran akan pentingnya HOTS ajkan membuat siswa termotivasi untuk mengikuti pembelajaran. Selain itu, kesadaran bahwa belajar bukan sekadar menghafal teori dan konsep akan membuat siswa mau belajar dengan HOTS.
Kekurangmampuan guru membuat video pembelajaran dapat diatasi dengan mengunduh video sesuai dengan KD yang akan dibelajarkan baik dari youtube maupun dari Rumah Belajar. Dengan demikian, selain menerapkan kegiatan literasi baca = tulis, siswa juga dapat meningkatkan literasi digitalnya.



BAB III
PENUTUP

3.1       Simpulan
Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.
1.             Pembelajaran tematik dengan model pembelajaran PBL layak dijadikan praktik baik pembeljaran berorientasi HOTS  karena dapat meingkatkan kemampuan siswa dalam melakukan transfer pengetahuan, berpikir kritis, dan pemecahan masalah. 
2.             Dengan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) secara sistematis dan cermat, pembelajaran tematik dengan model pembelajaran PBL yang dilaksanakan tidak sekadar berorientasi HOTS, tetapi juga mengintegrasikan PPK, literasi, dan kecakapan abad 21.



DAFTAR PUSTAKA

Abdurrozak, Rizal; Asep Kurnia Jayadinata; Isrok ‘atun. 2016. Pengaruh Model Problem Based Learning Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa. Jurnal Pena Ilmiah: Vol. 1, No, 1 (2016)

Anazifa. 2017. Project- Based Learning And Problem- Based Learning: Are They Effective To Improve Student’s Thinking Skills?. JPII 6 (2) (2017) 346-355

Astriani, Nurullita;Edy Surya; Edi Syahputra. 2017. The Effect Of Problem Based Learning To Students’ Mathematical Problem Solving Ability. IJARIIE-ISSN(O)-2395-4396. Vol-3 Issue-2 2017

Baharun, Hasan dan Rohmatul Umah. 2018. Strengthening Students’ Character in Akhlaq Subject through Problem Based Learning Model. Tadris: Jurnal Keguruan dan Ilmu Tarbiyah 3 (1): 21-30 (2018) DOI: 10.24042/tadris.v3i1.2205

Camelia. 2016. Penerapan Problem Based Learning (PBL) untuk Meningkatkan Participation Skills Siswa pada Pelajaran PKn Kelas V, SDN Karanggondang, Sewon, Bantul, Yogyakarta. Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar Edisi 5 Tahun ke-5 2016.


Jailani, J ;S. Sugiman; Ezi Apino. 2017. Implementing the Problem-Based Learning in Order to Improve the Students’ HOTS and Characters. Jurnal Riset Pendidikan Matematika, 4 (2), 2017 – 248


Oktavianti, I. 2015. PENINGKATAN HASIL BELAJAR Pkn SISWA KELAS VI SD 3 JEKULO KUDUS MELALUI MODEL PROBLEM BASED LEARNING. Refleksi Edukatika: Jurnal Ilmiah Kependidikan5 (1). Kudus: Universitas Muria Kudus

Surya, Yeni Fitria. 2017. Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas Iv Sdn 016 Langgini Kabupaten Kampar. Journal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika Volume 1, No. 1, Mei 2017. 38-53

Tabun,Yohana Febriana;Widha Sunarno; Sukarmin. 2019. Problem Based Learning, Kemampuan Berpikir Kritis, Kerjasama Dan Hasil Belajar Siswa SMP. Proceeding of Biology Education, (2019), 3(1), 58 – 63

Wahyuni, Putu Dian; Luh Putu Putrini Mahadewi & Dewa Nyoman Sudana. 2016. Penerapan Model Problem Based Learning (PBL) Berbantuan Media Komik untuk Meningkatkan Hasil Belajar PKn. Jurnal PGSD Tahun 2016.

Yuniara, Pinta. 2017. Application of Problem Based Learning to Students’ Improving on Mathematics Concept of Ability. International Journal of Sciences: Basic and Applied Research (IJSBAR)(2017) Volume 33, No 3, pp 261-269

Zuliana, E. 2015. Pengaruh Model Problem Based Learning Berbantuan Kartu Masalah terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Sekolah Dasar. Refleksi Edukatika: Jurnal Ilmiah Kependidikan5 (1). Kudus: Universitas Muria Kudus