ARTIKEL BEST PRACTICE
Disusun
guna memenuhi tugas mata kuliah
“Dasar Pendidikan dan Pembelajaran”
Dosen Pengampu: Dr. Sri Utaminingsih, M.Pd.
IMPLEMENTASI MODEL PROBLEM BASED LEARING BERORIENTASI HOTS PADA KELAS
VI SD
Oleh
ADIK LIA NOVITA
NIM
201903003
KELAS
E
PROGRAM STUDI MAGISTER PENDIDIKAN
DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MURIA KUDUS
2019
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pembelajaran
tematik terpadu di sekolah disesuaikan dengan tuntutan Kurikulum 2013 yang
pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan beberapa muatan pelajaran dalam
satu pembelajaran. Beberapa muatan, misalnya Bahasa Indonesia, IPA, dan IPS
disatukan dalam tema yang sama kemudian disajikan dalam satu pembelajaran utuh
yang saling berkaitan.
Penulis
menggunakan buku guru dan buku siswa dalam melaksanakan pembelajaran kurikulum
2013. Penulis meyakini bahwa buku tersebut sudah sesuai dan baik digunakan di
kelas karena diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Ternyata,
dalam praktiknya, penulis mengalami beberapa kesulitan seperti materi dan tugas
tidak sesuai dengan latar belakang siswa. Selain itu, penulis masih berfokus
pada penguasaan pengetahuan kognitif yang lebih mementingkan hafalan materi.
Dengan demikian proses berpikir siswa masih dalam level C1 (mengingat),
memahami (C2), dan C3 (aplikasi). Penulis hampir tidak pernah melaksanakan pembelajaran
yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order
thinking skills/ HOTS). Penulis juga jarang menggunakan media
pembelajaran. Dampaknya, suasana pembelajaran di kelas monoton dan anak-anak
tampak tidak ceria.
Berdasarkan
hasil wawancara dengan beberapa siswa diperoleh informasi bahwa siswa kurang
antusias mengikuti pembelajaran yang dilakukan guru dengan cara ceramah, selain
ceramah, metode yang selalu dilakukan guru adalah penugasan. Sebagian siswa
mengaku jenuh dengan tugas-tugas yang hanya bersifat mencatat materi-materi.
Untuk
menghadapi era Revolusi Industri 4.0, siswa harus dibekali keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher
order thinking skills). Salah satu model pembelajaran yang
berorientasi pada HOTS dan disarankan dalam implementasi Kurikulum 2013 adalah
model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning)/PBL. PBL
merupakan model pembelajaran yang mengedepankan strategi pembelajaran dengan
menggunakan masalah dari dunia nyata sebagai konteks siswa untuk belajar
tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk
memperoleh pengetahuan dan konsep esensial dari materi yang dipelajarinya.
Dalam PBL siswa dituntut untuk mampu memecahkan permasalahan nyata dalam kehidupan
sehari-hari (kontekstual). Dengan kata lain, PBL membelajarkan siswa untuk
berpikir secara kritis dan analitis, serta mencari dan menggunakan sumber
pembelajaran yang sesuai untuk memecahkan masalah yang dihadapi.
Setelah
melaksanakan pembelajaran tematik terpadui dengan model PBL, penulis menemukan
bahwa proses dan hasil belajar siswa meningkat. Lebih bagus dibandingkan
pembelajaran sebelumnya. Ketika model PBL ini diterapkan pada KELAS VI yang
lain ternyata proses dan hasil belalajar siswa sama baiknya. Praktik
pembelajaran PBL yang berhasil baik ini penulis simpulkan sebagai sebuah best
practice (praktik baik) pembelajaran berorientasi HOTS dengan model PBL. Kegiatan dalam praktik baik ini adalah kegiatan pembelajaran tematik di KELAS
VI untuk pasangan KD Bahasa Indonesia, IPA, dan IPS.
1.2 Tujuan
Tujuan penulisan
pratik baik ini adalah meningkatkan kompetensi siswa dalam pembelajaran
tematik integratif yang berorientasi HOTS dengan menggunakan model pembelajaran
Problem Based Learning.
1.3 Kajian Teori
Pembelajaran berbasis masalah adalah
salah satu model pembelajaran berbasis masalah yang telah dikenal sejak John
Dewey, dimana pembelajaran berbasis masalah berpusat pada model pembelajaran.
Siswa melibatkan pembelajaran melalui pemecahan masalah melalui keadaan nyata,
dan melibatkan hubungan antara stimulus dan respons (Yuniara, 2017). Model PBL merupakan salah satu model pembelajaran inovatif yang
berangkat dari masalah dunia nyata peserta didik untuk belajar tentang cara
berpikir kritis dalam memecahkan suatu permasalahan. Menurut Anazifa (2017) “Problem
based learning is based on the idea that individuals fashion their understanding
largely throught what the experience”. Pendapat tersebut jika diterjemahkan
mengandung arti pembelajaran berbasis masalah didasarkan pada gagasan bahwa
individu bisa paham terutama melalui pengalaman.
Sejalan dengan itu, Bound and Feletti (dalam Jailani, Sugiman dan
Ezi Apino; 2017) “ The basic principle supporting the concept of PBL, is
older than formal education itself., learning is initiated by a posed problem,
query, or puzzle taht the learner want to solve”. Pendapat Bound tersebut
jika diterjemahkan mengandung arti bahwa prinsip dasar yang mendukung konsep
dari PBL lebih tua dari pendidikan formal itu sendiri. Belajar diprakarsai
dengan adanya
Pembelajaran dalam penelitian ini
sebagai berikut tahapan dalam pembelajaran berbasis masalah menurut Padmavathy (dalam Yuniara: 2017).
1)
Jelaskan kata-kata, pernyataan dan
konsep yang tidak diketahui
2)
Definisikan masalah
3)
Brainstorm - menganalisis / mencoba
menjelaskan masalahnya
4)
Merumuskan Masalah Pembelajaran dan
Menentukan Tindakan yang Akan Diambil
5)
Belajar Mengarahkan Diri Sendiri.
6)
Pertemuan Kelompok Selanjutnya:
Laporkan dan evaluasi pembelajaran mandiri. Perbaiki masalah pembelajaran dan
tentukan tindakan lebih lanjut.
7)
Fase Laporan. Resolusi masalah.
Evaluasi proses.
Langkah-langkah model PBL juga dirumuskan dari orientasi peserta
didik pada masalah, mengorganisasikan peserta didik untuk belajar, membimbing
penyelidikan individual maupun kelompok, mengembangkan dan menyajikan hasil
karya dan menganalisis serta mengevaluasi proses pemecahan masalah (Surya,
2017).
Penelitian dengan pembelajaran
berbasis masalah telah dipraktekkan secara luas. Secara umum, hasil penelitian
dapat meningkatkan kemampuan peserta didik. Berikut penulis sajikan
beberapa penelitian terdahulu yang telah terbukti meningkatkan kemampuan
peserta didik.
1.
Berdasarkan penelitian tindakan kelas oleh Oktavianti dan Santoso (2015) menunjukkan bahwa melalui model Problem Based
Learning dapat meningkatkan hasil belajar PKn. Hal ini dapat dilihat dari
tercapainya indikator keberhasilan sebagai berikut. Persentase ketuntasan hasil
belajar klasikal pada ranah kognitif tes evaluasi siklus I 60% meningkat
menjadi 85% pada tes evaluasi siklus II dengan peningkatan nilai rata-rata
kelas pada siklus I 75,75 menjadi 80,50 pada siklus II. Hasil belajar siswa
pada ranah afektif pada siklus I rata-rata memperoleh nilai 67% dengan
kualifikasi “baik” meningkat pada siklus II menjadi 82 dengan kualifikasi
“baik”. Hasil belajar siswa pada ranah psikomotorik pada siklus I rata-rata
memperoleh nilai 60% dengan kualifikasi “baik” meningkat pada siklus II menjadi
85% dengan kualifikasi “sangat baik”.
2.
Berdasarkan
penelitian yang telah dilakukan oleh Zuliana (2015) menunjukkan bahwa pembelajaran matematika dengan
menggunakan model PBL berbantuan kartu masalah berpengaruh positif terhadap
kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang dapat dilihat dari hasil
analisis regresi linear diperoleh nilai hitung F = 44,232 dengan siginifikansi
0,000 < 5%, persamaan regresi linear Ŷ=37,227+0,584X dan koefisien
determinasi 59,6%.
3.
Penelitian lain oleh Camelia (2012) menunjukkan bahwa penerapan Problem Based Learning (PBL) dapat
meningkatkan participation skills siswa. Hasil akhir yang diperoleh
setelah tindakan siklus II adalah pada indikator bertanya sebesar 75.7%,
bekerja sama sebesar 78.4%, berdiskusi sebesar 75.7%, dan pada indikator
berbicara sebesar 75.7%. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan participation
skills siswa melalui penerapan Problem Based Learning (PBL) pada
pelajaran PKn siswa kelas V SDN Karanggondang, Sewon, Bantul, Yogyakarta.
4.
Berdasarkan
hasil penelitian lain juga, yaitu penelitian oleh Wahyuni
(2016) diperoleh hasil sebagai berikut: persentase rata-rata hasil belajar siswa berdasarkan
nilai ulangan akhir semester sebelum dilakukan penerapan tindakan sebesar 64%,
setelah dilakukan tindakan siklus I hasil belajar siswa menjadi 69,77%,
sedangkan pada siklus II sebesar 84,32%. Hasil penelitian pada siswa kelas IVA
SD Katolik Karya Singaraja semester genap tahun pelajaran 2015/2016 dengan
menerapkan model pembelajaran problem based learning (PBL) berbantuan
media komik menunjukkan adanya peningkatan terhadap hasil belajar PKn pada
siklus I dan II dibandingkan dengan sebelum adanya tindakan. Terjadi
peningkatan sebesar 14,55% dari siklus I ke siklus II. Berdasarkan hasil
penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Problem
Based Larning (PBL) berbantuan media komik dapat meningkatkan hasil belajar
PKn siswa kelas IVA SD Katolik Karya Singaraja.
5.
Berdasarkan penelitian oleh Tabun, dkk (2019 ditemukan
bahwa ada perbedaan hasil belajar yang signifikan terhadap pembelajaran IPA
Terpadu antara kelompok siswa yang diajar dengan PBL dengan kelompok siswa yang
diajar dengan model pembelajaran konvensional. Ini berarti pemberian Perlakuan PBL memberikan
dampak yang lebih baik terhadap hasil belajar dibandingkan dengan model
pembelajaran konvensional. Ada perbedaaan hasil belajar IPA Terpadu yang
signifikan antara kelompok siswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis tinggi
dan rendah. Siswa mendapatkan hasil belajar yang lebih tinggi apabila memiliki
kemampuan berpikir kritis tinggi baik pada kelompok PBL. Ini berarti kemampuan
berpikir kritis sebagai pendorong usaha dalam pencapaian hasil belajar. Ada
perbedaan hasil belajar IPA Terpadu yang signifikan antara kelompok siswa yang
memiliki kerjasama tinggi dan rendah. Siswa akan mendapatkan hasil belajar yang
lebih tinggi apabila memiliki kerjasama tinggi baik pada kelompok PBL maupun
konvensional.
6.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Yuniara (2017) menunjukkan bahwa sebelum diberikan tindakan rata-rata
tes awal sekitar 50,31 dengan tingkat pembelajaran yang lengkap adalah (25%).
Setelah melakukan tes kelas I siklus itu dari siklus belajar I meningkat
menjadi 56,25%. Ini berarti peningkatan 31,25% dari tes pertama. Dan kemudian
setelah melakukan tes siklus II dengan menerapkan pembelajaran berbasis masalah
mereka mendapatkan rata-rata pada proses pembelajaran dengan siklus II adalah
87,5%, yang berarti mereka mendapat peningkatan 31,25% dari siklus I tes.
7.
Hasil penelitian lain juga dilakukan oleh Jailani, dkk
(2017) yang menunjukkan bahwa: (1) implementasi PBL lebih efektif dibandingkan
dengan ekspositori dalam hal meningkatkan HOTS siswa; (2) implementasi PBL
telah menjadi lebih efektif dibandingkan dengan yang ekspositori dalam hal
meningkatkan karakter siswa.
8.
Berdasarkan penelitian Baharun dan Rohmatul Ummah (2018)
menunjukkan bahwa pembelajaran Akhlaq melalui pendekatan PBL dapat membentuk
aktivitas berpikir siswa secara alami dan dapat memecahkan masalah belajar yang
berkaitan dengan moralitas peserta didik. Sehingga peserta didik dapat belajar tentang cara
berpikir kritis dan dapat terampil dalam memecahkan masalah.
9.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan
oleh Abdurrozak, dkk (2016) diperoleh hasil 1) terdapat peningkatan kemampuan
berpikir kreatif siswa dengan menggunakan model PBL, 2) terdapat peningkatan
hasil belajar siswa dengan menggunakan model PBL, 3) kemampuan berpikir kreatif
siswa dengan menggunakan model PBL lebih baik daripada menggunakan model
konvensional, 4) terdapat faktor pendukung dan penghambat dalam meningkatkan
kemampuan berpikir kreatif siswa.
10.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh
Astriani, dkk (2017) dijelaskan bahwa ada pengaruh penggunaan model
pembelajaran berbasis masalah terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa
MTs Al-Yusriyah ini dapat dilihat dari hasil pengujian hipotesis, hasil yang
diperoleh Ho ditolak dan Ha diterima. Pengambilan keputusan dapat dilihat dari
t (2,988)> t tabel (1,684). Dapat dilihat bahwa rata-rata kemampuan
pemecahan masalah matematika siswa kelas eksperimen lebih besar daripada kelas
kontrol nilai rata-rata. Ini berarti bahwa siswa yang telah diberikan
pengajaran kelas eksperimen dengan menggunakan pembelajaran berbasis masalah,
kemampuan pemecahan masalah matematika lebih tinggi jika dibandingkan dengan
kemampuan pemecahan masalah siswa di kelas kontrol dengan pembelajaran
konvensional. Ini berarti ada pengaruh penggunaan model pembelajaran berbasis
masalah terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa MTs Al-Yusriyah
11.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Tujuan dan Sasaran
Tujuan penulisan praktik baik ini adalah untuk mendeskripsikan praktik baik
penulis dalam meerapkan pembelajaran berorientasi higher order thiking
skills (HOTS).
Sasaran pelaksanaan best practice ini adalah siswa Kelas VI semester 1 di
SD Negeri Guwo 01 sebanyak 18 orang tahun ajaran 2019/2020 .
2.2 Bahan/Materi Kegiatan
Bahan yang digunakan dalam praktik baik pembelajaran ini adalah
materi Kelas VI untuk tema globalisasi yag merupakan pembelajaran
tematik gabungan KD Bahasa Indonesia, IPA, dan IPS berikut ini.
Bahasa Indoesia
|
|
KD 3.3
|
Meringkas teks penjelasan (eksplanasi) dari media cetak atau elektronik.
|
|
KD 4.3
|
Menyajikan ringkasan teks penjelasan (eksplanasi) dari media
cetak atau elektronik dengan menggunakan kosakata baku dan kalimat efektif secara
lisan, tulis, dan visual
|
|
IPS
|
|
KD 3.2
|
Menganalisis perubahan sosial budaya dalam rangka modernisasi bangsa
Indonesia.
|
|
KD 4.2
|
Menyajikan hasil analisis mengenai perubahan sosial budaya dalam rangka
modernisasi bangsa Indonesia.
|
|
IPA
|
|
KD 3.3
|
Menganalisis cara makhluk hidup menyesuaikan diri dengan lingkungan.
|
|
KD 4.3
|
Menyajikan karya tentang cara makhluk hidup menyesuaikan diri dengan
lingkungannya, sebagai hasil penelusuran berbagai sumber
|
|
2.3 Cara Melaksanakan Kegiatan
Cara yang digunakan dalam pelaksanaan praktik baik ini adalah menerapkan
pembelajaran tematik terpadu dengan model pembelajaran problem based
learning (PBL).
Berikut ini adalah langkah-langkah pelaksanaan praktik baik yang telah
dilakukan penulis.
1.
Pemetaan KD
Pemetaan KD dilakukan untuk menentukan pasangan KD yang dapat diterapkan
dalam pembelajara tematik. Berdasarkan hasil telaah KD yang ada di KELAS VI,
peulis memilih tema modernisasi untuk membelajarkan pasangan
KD 3.3-4.3 muatan Bahasa Indonesia; KD 3.2 – 4.2 muatan IPS; dan KD 3.3 – 4.3 muatan IPA di KELAS VI
semester 1.
2.
Perumusan Indikator Pencapaian
Kompetesi
IPK Bahasa Indoesia
|
3.3.1
|
Mengidentifikasi informasi penting dalam teks penjelasan (eksplanasi)
tentang modernisasi dari media cetak atau elektronik.
|
3.3.2
|
Membenahi kalimat tidak efektif dalam teks (eksplanasi) dari media cetak
atau elektronik menjadi kalimat efektif.
|
3.3.3
|
Meringkas teks penjelasan (eksplanasi) dari media cetak atau elektronik.
|
4.3.1
|
Menyajikan ringkasan teks penjelasan (eksplanasi) dari media
cetak atau elektronik dengan menggunakan kosakata baku dan kalimat efektif
secara lisan, tulis, dan visual.
|
KD 4.3
|
Menyajikan ringkasan teks penjelasan (eksplanasi) dari media
cetak atau elektronik dengan menggunakan kosakata baku dan kalimat efektif
secara lisan, tulis, dan visual
|
IPS
|
3.2.1
|
Mengidentifikasi contoh perubahan sosial dalam rangka modernisasi bangsa
Indonesia.
|
3.2.2
|
Mengidentifikasi perubahan budaya dalam rangka modernisasi bangsa
Indonesia.
|
3.2.3
|
Menganalisis perubahan sosial dalam rangka modernisasi bangsa Indonesia.
|
3.2.4
|
Menganalisis perubahan budaya dalam rangka modernisasi bangsa Indonesia.
|
4.2.1
|
Menyajikan hasil analisis mengenai perubahan sosial budaya dalam rangka
modernisasi bangsa Indonesia.
|
4.2.2
|
Menmbuat peta pikiran (mind mapping) hasil analisis mengenai
perubahan sosial budaya dalam rangka modernisasi bangsa Indonesia.
|
IPA
|
3.3.1
|
Menguraikan cara makhluk hidup menyesuaikan diri dengan lingkungan.
|
3.3.2
|
Menganalisis cara makhluk hidup menyesuaikan diri dengan lingkungan
terhadap kelestarian spesiesnya.
|
KD 3.3
|
Menyajikan karya tentang cara makhluk hidup menyesuaikan diri dengan
lingkungannya, sebagai hasil penelusuran berbagai sumber.
|
KD 4.3
|
Menyajikan karya tentang cara makhluk hidup menyesuaikan diri dengan
lingkungannya, sebagai hasil penelusuran berbagai sumber
|
3.
Pemilihan Model Pembelajaran
Model pembelajaran yang dipilih adalah problem based learning (PBL) .
4.
Merencanakan
kegiatan Pembelajaran sesuai dengan Model Pembelajaran
Pengembangan desain pembelajaran dilakukan dengan merinci kegiatan
pembelajaran yang dilakukan sesuai dengan sintak PBL. Berikut ini
adalah rencana kegiatan pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan model PBL.
Sintak
Model Pembelajaran
|
Guru
|
Siswa
|
Orientasi
Masalah
|
1) Guru
menyampaikan ilustrasi bahwa diban-dingkan kehidupan-nya pada masa kecil,
saat ini dunia sudah berkembang menjadi modern.
2) Guru
mengajukan pertanyaan, “Apa yang kalian ketahui tentang modern dan modernisasi?
3) Guru
meminta siswa membaca teks eks-planasi tentang pengertian modernisasi.
4) Bertanya
jawab untuk menyimpulkan pengertian modernisasi termasuk membuka kBBI.
5) Guru
menyampaikan tujuan materi pem-belajaran hari itu adalah membuat ring-kasan
teks ekspla-nasi; Menganalisis perubahan budaya dalam rangka
modern isasi bangsa Indonesia.
6) Guru
menyampaikan bahwa kegiatan beri kutnya siswa ditu-gaskan untuk menyimak
tayangan video tentang perubahan budaya.
7) Guru
menyampaikan tugas siswa yaitu (a) menentukan pokok-pokok informasi terkait
yang terdapat dalam video (teks audio visual), (b) mengidenti-fikasi kalimat
tidak efektif yang digunakan dalam video’ (c) membenahi kalimat tidak efektif
menjadi kalimat efektif, (d) mengidentifikasi kosa kata baru dalam video, (e)
menemukan makna kosa kata baru dengan menggunakan Kamus Besar Bahasa
Indo-nesia, (f) membuat ringkasan isi video dengan menggunakan kalimat
efektif, (g) menjawab pertanyaan yang disediakan dalam LKS, (g) mengiden-tifikasi
contoh peru-bahan sosial budaya dalam rangka modern-isasi yang terdapat dalam
video.
|
1) Menyimak
penjelasan guru dan menjawab pertanyaan guru.
|
Mengorganisasi
|
1) Guru
membagi siswa dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok. Setiap kelompok
terdiri dari 45 orang.
2) Setiap
kelompok mengerjakan tugas yang telah dijelaskan oleh guru.
|
|
Membimbing
penyelidikan
|
1) Guru
membimbing siswa menyelesaikan tugasnya.
2) Guru
memberi ban-tuan dan atau menja-wab pertanyaan dari siswa bila dibutuhkan.
|
|
Mengembangkan
dan menyajikan laporan hasil karya
|
Mendampingi
siswa dalam mengembangkan dan menyajikan laporan hasil kerja.
|
1) Menyusun
laporan hasil kerja kelompok.
2) Mempresentasikan
hasil kerjanya dalam diskusi kelas.
3) Kelompok
lain memberikan tang-gapan, mengajukan pertanyaan, atau usul terhadap hasil
kerja kelompok lain.
|
Menganalisis
dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.
|
1) Menganalisis
dan mengevaluasi hasil kerja siswa.
2) Memberi
penguatan hasil belajar siswa.
|
1) Menyimak
penjelasan guru.
2) Mengajukan
pertanyaan dan atau tanggapan bila belum paham.
|
Pembelajaran
|
setelah
istirahat
|
|
Orientasi
Masalah
|
1) Guru
menyampai kan bahwa agar dapat hidup sesuai dengan perubahan zaman yang
terjadi (moder nisasi), seseorang harus mampu bera-daptasi. Bila tidak, orang
tersebut akan tergilas zaman. Begitu pun dengan tumbuhan dan binatang. Mereka
juga harus mampu beradaptasi.
2) Guru
mengajukan pertanyaan, “Dapatkah kalian memberi contoh cara kita beradaptasi
dengan lingkungan?
Guru
menyampaikan tugas siswa berikutnya adalah menganalisis cara mahluk hidup
beradaptasi dengan lingkungannya.
|
1) Menyimak
penjelasan guru.
2) Menjawab
pertanyaan guru.
|
Mengorganisasi
|
Guru meminta
siswa kembali duduk bersama kelompoknya untuk mengerjakan tugas kelompok.
|
1) Duduk
dalam kelompoknya.
2) Membagi
tugas.
|
Membimbing
penyelidikan
|
1) Menyajikan
video tentang cara mahluk hidup beradaptasi dengan lingkungannya.
2) Mendampingi
siswa mengerjakan tugas kelompoknya.
|
1) Menyimak
tayangan video.
2) Membuat
catatan penting sesuai dengan tugas yang harus dikerjakan.
|
Mengembangkan
dan menyajikan laporan hasil karya
|
Mendampingi siswa menyelesaikan kerja kelompoknya.
|
1) Mendiskusikan
hasil simakan.
2) Mengerjakan
tugas yang disajikan dalam LKS.
3) Mempresentasikan
hasil kerja kelompok.
4) Menanggapi
presentasi kelompok lain.
|
Menganalisis
dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.
|
1) Menganalisis
dan mengevaluasi hasil kerja kelompok.
2) Memberi
penguatan hasil belajar siswa.
3) Membimbing
siswa membuat simpulan hasil belajar hari itu mulai dari teks eksplanasi,
perubahan sosial budaya dalam rangka modernisasi, dan cara mahluk hidup beradaptasi
dengan lingkungannya.
|
1) Menyimak
penjelasan guru.
2) Mengajukan
pertanyaan bila belum paham.
|
5.
Penyusunan Perangkat Pembelajaran
Berdasarkan hasil kerja 1 hingga 5 di atas kemudian disusun perangkat pembelajaran meliputi RPP, bahan
ajar, LKS, dan instrumen penilaian. RPP
disusun dengan mengintegrasikan kegiatan literasi, penguatan pendidikan
karakter (PPK), dan kecakapan abad 21.
2.4 Media dan Instrumen
Media pembelajaran yang digunakan dalam praktik terbaik ini adalah (a)
contoh teks ekplanasi berjudul “Pengaruh Globalisasi terhadap
Masyarakat Indonesia”, (b) video “Perubahan Sosial Budaya pada masa Modern” diambil
dari https://www.youtube.com/watch?v=cx0DRUawd-,
dan (c) lembar kerja siswa (LKS) tematik.
Instrumen
yang digunakan dalam praktik baik ini ada 2 macam yaitu (a) instrumen untuk
mengamati proses pembelajaran berupa lembar observasi dan (b)
instrumen untuk melihat hasil belajar siswa dengan menggunakan (a) tes tulis pilihan
ganda dan uraian singkat.
2.5 Waktu dan Tempat Kegiatan
Praktik baik ini dilaksanakan pada tanggal September tahun 2019 bertempat di KELAS VI SD
Negeri Guwo 01 Kecamatan Tlogowungu Kabupaten Pati.
2.6 Hasil
Hasil yang dapat diilaporkan dari praktik baik ini diuraikan sebagai
berikut.
1.
Proses pembelajaran tematik yang
dilakukan dengan menerapkan model pembelajaran PBL berlangsung aktif. Siswa
menjadi lebih aktif merespon pertanyaan dari guru, termasuk mengajukan
pertanyaan pada guru maupun temannya. Aktifitas pembelajaran yang dirancang
sesuai sintak PBL megharuskan siswa aktif selama proses pembelajaran.
2.
Pembelajaran tematik yang dilakukan
dengan menerapkan model pembelajaran PBL meningkatkan kemampuan siswa dalam
melakukan transfer knowledge.
Setelah membaca, meringkas, dan
mendiskusikan teks eksplanasi tentang modernisasi, siswa tidak hanya memahami
konsep teks eksplanasi (pengetahuan konseptual) dan bagaimana membuat ringkasan
yang benar (pengetahuan prosedural), tetapi juga memahami konsep modernisasi.
Pemahaman ini menjadi dasar siswa dalam mempelajari materi IPS tentang
perubahan sosial budaya dalam rangka modernisasi. Pemahaman tentang konsep
moderisasi membantu siswa dalam menganalisis prubahan sosial budaya sebagai
akibat moderisasi.
Pemahaman siswa tetang perubahan
sosial budaya dalam rangka moderisasi pada dasarnya merupakan bentuk adaptasi
masyarakat terhadap modernisasi. Pemahaman ini dapat menjadi pengantar bagi
siswa untuk memahami cara mahluk hidup beradaptasi dengan lingkungan.
3.
Penerapan model pembelajaran PBL
meningkatkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis.
Hal ini dapat dilihat dari tingkat
partisipasi siswa untuk bertanya dan menanggapi topik yang dibahas dalam
pembelajaran. Dalam pembelajaran sebelumnya yang dilakukan penulis tanpa berorientasi
HOTS suasana kelas cenderung sepi dan serius. Siswa cenderung bekerja
sendiri-sendiri untuk berlomba menyelesaikan tugas yang diberikan guru. Fokus
guru adalah bagaimana siswa dapat menyelesikan soal yang disajikan; kurang peduli
pada proses berpikir siswa. Tak hanya itu, materi pembelajaran yang selama ini
selalu disajikan dengan pola deduktif (diawali dengan ceramah teori tentang
materi yang dipelajari, pemberian tugas, dan pembahasa), membuat siswa
cenderung menghapalkan teori. Pengetahuan yang diperoleh siswa adalah apa yang
diajarkan oleh guru.
Berbeda kondisinya dengan praktik
baik pembelajaran tematik berorientasi HOTS dengan menerapkan PBL ini. Dalam
pembelajaran ini pemahaman siswa tentang konsep teks eksplanasi, perubahan
sosial budaya, dan cara mahluk hidup menyesuaikan diri benar-benar dibangun
oleh siswa melalui pengamatan dan diskusi yang meuntut kemampuan siswa untuk
berpikir kritis.
4.
Penerapan model pembelajaran PBL
juga meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah (problem solving).
PBL yang diterapkan dengan menyajikan teks tulis dan video berisi permasalahan
kontekstual mampu mendorong siswa merumuskan pemecahan masalah.
Sebelum menerapkan PBL, penulis
melaksanakan pembelajaran sesuai dengan buku guru dan buku siswa. Meskipun
permasalahan yang disajikan dalam buku teks kadang kala kurang sesuai dengan
kehidupan sehari-hari siswa, tetap saja penulis gunakan. Jenis teks yang
digunakan juga hanya pada teks tulis dari buku teks.
Dengan menerapkan PBL, siswa tak
hanya belajar dari teks tulis, tetapi juga dari video serta diberi kesempatan
terbuka untuk mencari data, materi dari sumber lainnya.
2.7 Masalah yang Dihadapi
Masalah yang dihadapi terutama adalah siswa belum terbiasa siswa belajar dengan model PBL. Dengan tujuan untuk mendapat nilai ulangan yang baik guru
selalu mengguakan metode ceramah, siswa pun merasa lebih percaya diri
menghadapi ulangan (penilaian) setelah mendapat penjelasan guru melalui
ceramah.
Masalah
lainnya adalah guru tidak mempunyai kompetensi yang memadai untuk membuat video
pembelajaran. Padahal selain sebagai media pembelajaran,. Video juga merupakan
bentuk teks audiovisual yang juga harus disajikan sesuai dengan rumusan KD.
2.8 Cara Mengatasi Masalah
Agar siswa yakin bahwa pembelajaran tematik dengan PBL dapat membantu mereka lebih menguasai materi pembelajaran, guru
memberi penjelasan sekilas tentang apa, bagaimana, mengapa, dan manfaat belajar
berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order
thinking skills/HOTS). Pemahaman dan
kesadaran akan pentingnya HOTS ajkan membuat siswa termotivasi untuk mengikuti
pembelajaran. Selain itu, kesadaran bahwa belajar bukan sekadar menghafal teori
dan konsep akan membuat siswa mau belajar dengan HOTS.
Kekurangmampuan
guru membuat video pembelajaran dapat diatasi dengan mengunduh video sesuai
dengan KD yang akan dibelajarkan baik dari youtube maupun dari Rumah Belajar.
Dengan demikian, selain menerapkan kegiatan literasi baca = tulis, siswa juga
dapat meningkatkan literasi digitalnya.
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.
1.
Pembelajaran tematik dengan model
pembelajaran PBL layak dijadikan praktik baik pembeljaran berorientasi
HOTS karena dapat meingkatkan kemampuan siswa dalam melakukan
transfer pengetahuan, berpikir kritis, dan pemecahan masalah.
2.
Dengan penyusunan rencana
pelaksanaan pembelajaran (RPP) secara sistematis dan cermat, pembelajaran
tematik dengan model pembelajaran PBL yang dilaksanakan tidak sekadar
berorientasi HOTS, tetapi juga mengintegrasikan PPK, literasi, dan kecakapan
abad 21.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrozak,
Rizal; Asep Kurnia Jayadinata; Isrok ‘atun. 2016. Pengaruh Model Problem Based
Learning Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa. Jurnal Pena Ilmiah: Vol.
1, No, 1 (2016)
Anazifa. 2017. Project- Based Learning And Problem-
Based Learning: Are They Effective To Improve Student’s Thinking Skills?. JPII 6 (2)
(2017) 346-355
Astriani,
Nurullita;Edy Surya; Edi Syahputra. 2017. The Effect Of Problem Based Learning
To Students’ Mathematical Problem Solving Ability. IJARIIE-ISSN(O)-2395-4396. Vol-3 Issue-2 2017
Baharun,
Hasan dan Rohmatul Umah. 2018. Strengthening Students’ Character in Akhlaq
Subject through Problem Based Learning Model. Tadris: Jurnal Keguruan dan
Ilmu Tarbiyah 3 (1): 21-30 (2018) DOI: 10.24042/tadris.v3i1.2205
Camelia. 2016. Penerapan Problem Based
Learning (PBL) untuk Meningkatkan Participation Skills Siswa pada
Pelajaran PKn Kelas V, SDN Karanggondang, Sewon, Bantul, Yogyakarta. Jurnal
Pendidikan Guru Sekolah Dasar Edisi 5 Tahun ke-5 2016.
Jailani,
J ;S. Sugiman; Ezi Apino. 2017. Implementing the Problem-Based Learning in
Order to Improve the Students’ HOTS and Characters. Jurnal Riset Pendidikan
Matematika, 4 (2), 2017 – 248
Oktavianti, I. 2015. PENINGKATAN
HASIL BELAJAR Pkn SISWA KELAS VI SD 3 JEKULO KUDUS MELALUI MODEL PROBLEM BASED
LEARNING. Refleksi Edukatika: Jurnal
Ilmiah Kependidikan, 5 (1). Kudus: Universitas Muria Kudus
Surya,
Yeni Fitria. 2017. Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning Untuk
Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas Iv Sdn 016 Langgini Kabupaten
Kampar. Journal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika Volume 1, No. 1, Mei
2017. 38-53
Tabun,Yohana
Febriana;Widha Sunarno; Sukarmin. 2019. Problem Based Learning, Kemampuan
Berpikir Kritis, Kerjasama Dan Hasil Belajar Siswa SMP. Proceeding of
Biology Education, (2019), 3(1), 58 – 63
Wahyuni, Putu Dian; Luh Putu Putrini Mahadewi
& Dewa Nyoman Sudana. 2016. Penerapan Model Problem Based Learning (PBL) Berbantuan Media Komik untuk
Meningkatkan Hasil Belajar PKn. Jurnal PGSD
Tahun 2016.
Yuniara,
Pinta. 2017. Application of Problem Based Learning to Students’ Improving on
Mathematics Concept of Ability. International Journal of Sciences: Basic and
Applied Research (IJSBAR)(2017) Volume 33, No 3, pp 261-269
Zuliana, E. 2015. Pengaruh Model
Problem Based Learning Berbantuan Kartu Masalah terhadap Kemampuan Pemecahan
Masalah Matematika Siswa Sekolah Dasar. Refleksi Edukatika: Jurnal Ilmiah Kependidikan, 5 (1).
Kudus: Universitas Muria Kudus